23. Kalau Mariologi mau menjadi teologi sejati, pemikiran terarah dan teratur mengenai apa yang diimani umat Kristen, maka mesti bertitik tolak kesaksian umat semula, seperti yang termaktub dalam Perjanjian Baru. Jika teologi itu tidak mau menjadi mitologi, ia mesti, bersama dengan iman umat perdana, berurat akar dalam sejarah. Maka bab pertama Mariologi ini mulai dengan Perjanjian Baru dan dasar historiknya.

A. IBU YESUS DALAM SEJARAH

24. Kalau disisihkan sebentar Mat 1-2 dan Luk 1-2, maka nama Maria, ibu Yesus, hanya tiga kali disebutkan dalam Perjanjian Baru, yaitu: Mat 13:55; Mrk 6:3 dan Kis 1:4. Tanpa disebutkan namanya ibu Yesus tampil dalam Mat 12:46; Mrk 3:31; Luk 8:19. Yoh tidak pernah menyebut nama ibu Yesus, tetapi menampilkannya sampai dua kali (Yoh 2:1-3.5; 19:25.26) dan sekali menyebutkannya (Yoh 6:42).

25. Atas dasar ayat yang serba sedikit itu mesti diakui bahwa informasi historik yang ada tentang Maria, ibu Yesus, serba terbatas. Secara historik hanya diketahui atas dasar ayat-ayat itu bahwa Yesus mempunyai ibu yang bernama Maria. Nama itu amat lazim di kalangan Yahudi. Dalam Perjanjian Baru sajalah banyak wanita yang bernama Maria. Ada Maria Magdalena (Mat 27:56; 28:1; Mrk 15:40.47; 16:1; Luk 8:2; 24:10; Yoh 19:25; 20:1.11.16.18), Maria Ibu Yakobus (Mat 27:56.61; Mrk 15:40.47; 16:1; Luk 24:10), Maria istri/saudara Klopas (Yoh 19:25), Maria saudari Marta (Luk 10:39-42; Yoh 11:1 dst.; 12:3), Maria ibu Markus (Kis 12:12) dan seorang wanita Kristen (Rm 16:6).Yesus dapat dikatakan “bin Maria” (Mrk 6:3), tetapi lebih sering tampil sebagai “bin Yusuf” (Luk 3:23; 4:22; Yoh 1:45; 6:42). Juga Paulus (Gal 4:4) menerima bahwaYesus mempuyai ibu.

26. Maka tentang hal ihwal Maria dengan mendasarkan diri pada Perjanjian Baru (kecuali Mat 1-2; Luk 1-2) kita tidak tahu apa-apa, kecuali yang dikatakan dalam Mrk 3:31. Mengingat corak Injil Yoh, maka apa yang diceritakan tentang ibu Yesus (Yoh 2:1 dst., 19:25 dst.) tidak dapat dipastikan sebagai informasi historik. Rupanya Maria tidak berperan dalam kehidupan Yesus setelah dewasa dan tampil ke depan umum. Mengingat Mrk 3:21.31-35 nampaknya Yesus memutuskan hubunganNya dengan familiNya, termasuk ibuNya. Atas dasar Kis 1:14 dapat disimpulkan bahwa Maria menjadi anggota jemaah perdana di Yerusalem bersama dengan sanak saudara Yesus yang lain. Selanjutnya Maria tidak berperan sama sekali dalam Kis. Kalau namanya disebut dalam Kis1:14 boleh diduga bahwa penulis Kis mendapat informasi itu dari tradisi sebelumnya, sehingga Maria sebagai anggota jemaah perdana bukan ciptaan penulis saja. Tetapi bagaimanapun juga rupanya ibu Yesus pada jemaah perdana tidak memegang peranan khusus, seperti misalnya Yakobus, saudara Tuhan (Gal 1:19; 2:9.12; 1Kor 15:7; Kis 12:17; 15:13; 21:18) dan sanak saudara Yesus yang lain (1Kor 9:5; Yoh 7:5; 20:17).

27. Dengan jalan samping informasi serba sedikit itu dapat ditambah. Ibu Yesus seorang wanita Yahudi. Seluruh Perjanjian Baru memang yakin bahwa Yesus seorang asli Yahudi, sehingga ibuNya pun asli Yahudi. Yesus dianggap “orang Nazaret” (Mrk 10:47; 14:67; Luk 18:37; 24:19; Yoh 18:5; 19:19; Kis 10:38; 26:9). Nazareth dapat diidentifikasikan dengan sebuah desa/kota di daerah Galilea. Nazareth menjadi tempat tinggal Maria, entahlah berasal dari mana. Tempat tinggalnya itu cukup terpencil, bukan kota. Maria nikah dengan seorang yang bernama Yusuf (Yesus memang disebut “bin Yusuf”). Oleh karena Yusuf tidak tampil sama sekali dalam kisah Injil dan Maria selalu ditampilkan bersama “sanak saudara” Yesus, maka boleh disimpulkan bahwa Maria manjanda waktu Yesus dewasa. Yusuf disebutkan sebagai “keturunan Daud” (bdk. Mat 1:20; Luk 1:27) dan Yesus dianggap keturunan Daud (bdk. Mrk 12:35.37 dsj.; Yoh 3:23-38). Tetapi boleh jadi Yesus hanya secara teologik / mesianik “keturunan Daud”, sehingga tidak pasti juga Yusuf benar-benar keturunan Daud. Tidak ada informasi pasti mengenai genealogi Maria. Luk 3:23-38 tidak boleh dinilai demikian.

28. Pada Maria ada sanak saudara. Yoh 19:25 menyebut seorang “saudari ibu Yesus”, entahlah bagaimana hubungan Maria dengan wanita itu. Berulang kali Maria dalam kisah Injil (dan Kis 1:14) tampil bersama dengan sekelompok “saudara Yesus” (Mat 12:46 dsj.; Yoh 2:12). Mrk 6:3 dsj. memperkenalkan nama Yoses / Yosef, Simon dan Yakobus. Disebut juga beberapa “saudari” yang namanya tidak diberikan. Nanti dibahas lebih lanjut bagaimana relasi Yesus dengan “saudara/saudari” itu. Tetapi bagaimanapun juga pada Maria ada sejumlah sanak saudara.

29. Selanjutnya tidak ada informasi mengenai hal ihwal Maria, khususnya mengenai hal ihwalnya setelah Yesus hilang dari panggung sejarah.

B. CIRI-CORAK MAT 1-2 DAN LUK 1-2

30. Informasi historik tentang hal ihwal Maria sangat bertambah seandainya Mat 1-2 dan Luk 1-2 dapat dipakai sebagai sumber informasi macam itu. Tetapi harus diakui bahwa bagian-bagian Injil itu mempunyai ciri-corak yang sedemikian rupa, sehingga tidak dapat dipakai oleh ilmu sejarah. Tentu saja ceritera-ceritera sekitar kelahiran serta masa muda Yesus memperteguh informasi yang dapat digali dari Injil-injil dan karangan Perjanjian Baru yang lain atau dapat dijabarkan dari apa yang berlaku umum untuk setiap orang Yahudi pada masa itu. Tetapi sesuatu yang baru tidak dapat diangkat dari Mat 1-2 dan Luk 1-2.

31. Sudah barang tentu tetap ada sejumlah ahli Kitab yang yakin behwa dari Mat 1-2 dan Luk 1-2 dapat digali informsi historik yang amat berharga. Ahli-ahli itu bukan penganut fundamentalisme alkitabiah. Mereka berpendapat bahwa ceritera-ceritera itu berupa tradisi yang terpelihara di kalangan sanak saudara Yesus. Atas dasar Luk 2:19.51 mereka malah menunjuk Maria sendiri sebagai sumber tradisi itu. Mat 1-2 terlebih dihubungkan dengan Yusuf. Tetapi pendapat itu semakin kurang mendapat pendukung. Penelitian atas Mat 1-2 dan Luk 1-2 memang amat memperlemah pendapat itu.

32. Pertama-tama harus dikatakan bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 bukan bercirikan laporan historik, tetapi pewartaan Injil, pemberitaan tentang Yesus Kristus, bukan tentang Maria. Tentu saja Mat 1-2 dan terutama Luk 1-2 mementaskan ibu Yesus, tetapi selalu dalam rangka pewartaan tentang Kristus. Dalam hal ini Mat 1-2 dan Luk 1-2 pada dasarnya tidak berbeda dengan (bagian-bagian) dari lain. Tidak ada satu pun Injil yang bermaksud “melaporkan” hal ihwal Yesus, orang Nazaret. Semua mewartakan Yesus Kristus sebagaimana Ia diimani oleh jemaah-jemaah Kristen waktu Injil-injil disusun (atas dasar tradisi juga) oleh orang yang sendiri terlibat dalam hal ihwal Yesus, orang Nazaret.

33. Tidak mau dipungkiri bahwa Injil-injil itu dapat dimanfaatkan guna sampai kepada Yesus historik. Tetapi tetap tinggal bahwa penulis-penulis tidak bermaksud memberi laporan. Mereka mau mengungkapkan imannya. Bagian demi bagian Injil-injil perlu diselidiki sejauh mana menyalurkan informasi historik dan cara yang bagaimana informasi itu disalurkan. Bobot historik masing-masing bagian berbeda sekali. Informasi misalnya yang terkandung dalam ceritera tentang baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dan tentang Yesus yang dicobai (Mat 1:13-4:11 dsj.), mengenai Yesus yang berubah rupa di sebuah gunung (Mat 17:1-13 dsj.) dan tentang Yesus yang membuat mujizat agak minimal, kalau ceritera-ceritera itu diselidiki dengan seksama. Kadar historik kisah sengsara misalnya jauh lebih tinggi, meskipun juga kisah itu tidak berupa sebuah laporan.

34. Ceritera-ceritera seputar kelahiran dan masa muda Yesus itu membekukan suatu tradisi tersendiri. Asal usul tradisi itu tidak seluruhnya pasti. Tetapi ada dugaan kuat bahwa berasal dari jemaah-jemaah Kristen keturunan Yahudi yang berbahasa Yunani. Melihat perbedaan menyolok antara apa yang termuat dalam Mat 1-2 dan Luk 1-2 boleh diduga adanya dua tradisi yang tidak bergantung satu sama lain sedangkan juga kedua penginjil itu tidak saling mengenal. Hanya dalam data dasariah ada kesamaan antara kedua tradisi (dan penginjil itu): Yesus lahir di Betlehem dan dikandung secara luar biasa (dari Roh Kudus); nama orang tuanya, Yusuf dan Maria; Yesus disunat dan diberi nama Yesus atas petunjuk dari Allah dan Ia menjadi besar di Nazaret. Semua fakta itu, kecuali cara terkandung dan kelahiran di Betlehem (bdk. Yoh 7:42), dapat digali dari Injil-injil atau dijabarkan secara wajar.

35. Mengingat bahwa dari tradisi Mat 1-2 dan Luk 1-2 tidak ada bekasnya dalam Injil Mrk (dan malah Mat dan Luk sendiri) atau lain-lain karangan yang termaktub dalam Perjanjian Baru, maka jelaslah lingkup perkembangan dan peredaran tradisi-tradisi itu agak terbatas. Melalui Mat dan Luk barulah tradisi-tradisi itu tersebar lebih luas. Setelah keempat Injil umum diterima tradisi-tradisi itu masuk ke dalam tradisi seluruh umat Kristen.

36. Sedikit sukar, bahkan umumnya mustahil, memastikan seberapa jauhnya tradisi-tradisi awal itu sudah berbentuk tulisan atau hanya lisan. Seukar menentukan sejauh mana tradisi-tradisi itu sudah melebur menjadi suatu kesatuan sebelum diangkat dalam Mat dan Luk. Tetapi bagaimanapun juga, baik Mat maupun Luk memanfaatkan bahan tradisi yang tersedia bagi mereka. Penginjil-penginjil pun lebih kuat mengolah, menyadur dan menyusun bahan yang diterimanya dari tradisi. Dua-duanya jelas menyesuaikan bahan itu dengan pikiran dan pandangan mereka, seperti yang terungkap dalam Injil-injil selanjutnya. Mereka membuat bahan tradisi, yang diolah seperlunya, menjadi semacam pendahuluan bagi kisah Injilnya, yang disusun atas dasar tradisi (baik yang tertulis maupun yang lisan), yang juga digarap seperlunya. Dalam pendahuluan “Pahlawan” kisahnya sudah diperkenalkan.

37. Melalui sejumlah ceritera seputar kelahiran dan masa muda Yesus tradisi yangtercantum dalam Mat 1-2 dan Luk 1-2 (sukar secara terinci menentukan mana andil tradisi dan mana andil penginjil) mengungkapkan imannya, ialah iman jemaah, akan Yesus Kristus. Apa yang terjadi ialah: Iman jemaah, seperti lambat laun berkembang dengan bertitik tolak pengalaman (dalam apa yang disebutkan sebagai Roh Kudus) akan Yesus yang dibangkitkan dari antara orang mati, dipindahkan kepada awal hidupNya. Sebagai sarana pengungkapan iman itu dipakai ceritera-ceritera yang tidak berdasarkan saksi mata, tetapi pelbagai motif, gagasan dan ceritera yang tercantum dalam Perjanjian Lama dan beredar dalam tradisi Yahudi sekitar tokoh-tokoh besar dalam sejarah penyelamatan, seperti Abraham, Yakub, Yusuf, Laban, Musa, Gideon, Simson dan sebagainya.

38. Meskipun ada sementara ahli (ilmu sejarah agama) yang mencoba membuktikan bahwa ceritera-ceritera itu juga terpengaruh oleh agama, tegasnya mitologi kafir, namun pengaruh agama itu tidak perlu untuk memahami ceritera-ceritera itu. Sebab Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi cukup dapat menjelaskan semuanya. Kecuali itu, pengaruh macam itu sukar diterima mengingat bahwa tradisi-tradisi itu berurat berakar dalam lingkup Kristen-Yahudi dan lingkup itu tidak terbuka bagi mitologi kafir yang dijijikkan. Tambah lagi bahwa di zaman Perjanjian Baru bahkan orang kafir (yang terdidik) agak skeptik terhadap mitologi tradisional, yang tidak lagi berfungsi sebagai sarana pengungkapan pandangan dan iman. Aneh rasanya bahwa tradisi Kristen, apalagi penginjil-penginjil, yang jelas orang terdidik, memanfaatkan sarana yang tidak berperan lagi, apalagi sebagai sarana untuk mengungkapkan iman Kristen yang baru.

39. Meskipun ceritera-ceritera sekitar kelahiran dan masa muda Yesus ciptaan tradisi atau penginjil, namun itu belum berarti bahwa semuanya khayalan belaka. Ceritera-ceritera itu mengenai seorang tokoh historik, Yesus, orang Nazaret, sebagaimana Ia diimani umat Kristen. Apa yang diimani tentu saja tidak “historik” dengan arti: dapat diamati dan diketahui setiap orang dan dapat diselidiki oleh ilmu sejarah. Misalnya: Bahwasanya Yesus yang tadinya mati, sesungguhnya hidup oleh karena dibangkitkan; bahwa Yesus lebih dari manusia belaka, tetapi dengan arti khusus Anak Allah dan Tuhan, hanya dapat diimani. Tetapi – kecuali kalau orang menyatakan seluruh iman Kristen khayalan belaka – iman Kristen itu mengenai suatu realitas yang bukan hasil keinginan hati dan buah khayal manusia belaka. Ceritera-ceritera seputar kelahiran dan masa muda Yesus mengenai suatu realitas objektif, yakni Yesus, orang Nazaret, yang realitasNya melampaui pengamatan dan penyelidikan historik belaka.

40. Ada kemiripan besar antara ceritera-ceritera sekitar tampilnya Yesus di bumi dan ceritera-ceritera seputar penampakan Yesus yang sudah hilang dari panggung sejarah. Misalnya: Dalam kedua kumpulan ceritera turun tangan Allah (dilambangkan malaikat atau mukjizat) amat ditekankan. Dua-duanya beukan suatu kisah beruntut, tetapi terlebih (kumpulan) cerita pendek. Dengan jalan demikian ditonjolkan bahwa inti sari peristiwa kebangkitan / penampakan Yesus dan kelahiranNya di luar jangkauan pengamatan dan dan menjadi dasar iman saja.

41. Baik ceritera-ceritera sekitar penampakan Yesus pada akhir kisah Injil (Mat 28; Mrk16; Luk 24; Yoh 20;21) dan pada awal kisah para rasul (Kis 1:1-10) maupun ceritera seputar tampilnya Yesus di bumi (Mat 1-2; Luk 1-2) boleh digolongkan ke dalam jenis sastera yang diistilahkan sebagai “legenda”, tegasnya “legenda apokaliptik”, paling tidak ceritera-ceritera itu mirip dengan jenis sastera itu. Adapun “legenda” ialah suatu jenis sastera dan sarana kesusasteraan (entah sastera rakyat entah sastera budaya), yang dengannya tidak mau dilaporkan suatu peristiwa atau gejala atau pengalaman historik secara “objektif”, melainkan mau diungkapkan bagaimana sekelompok orang (atau seorang sasterawan) memahami, menilai dan mengartikan suatu peristiwa, gejala, tokoh atau pengalaman historik. Tokoh-tokoh besar, peristiwa penting ataupun pengalaman hebat sampai dengan hari ini mencetuskan legenda-legenda yang kadar dan bobot historiknya dapat bermacam-macam, yang setiap kali perlu diselidiki.

42. Sehubungan dengan Mat 1-2 dan Luk 1-2 boleh disimpulkan sebagai berikut: Ceritera-ceritera itu, berkenaan dengan ibu Yesus, tidak menambah informasi historik serba sedikit yang dapat digali dari karangan-karangan yang termaktub dalam Perjanjian Baru. Informasi historik mengenai Maria jauhkalah dengan informasi historik mengenai Yesus yang dapat digali dari Perjanjian Baru (yang sebenarnya juga tidak terlalu banyak). Kalau tidak mungkin menyusun suatu “riwayat hidup” Yesus, apa pula orang tidak dapat menyusun suatu “biografi” ibu Yesus, Maria.

43. Kekurangan informasi yang termuat dalam Perjanjian Baru sejak abad II sepuas-puasnya dilengkapi oleh berbagai tulisan yang diistilahkan sebagai “apokrip” (ataupun “pseudepigraph”), kitab-kitab yang berlagak Kitab Suci tetapi sebenarnya gadungan. Terkenal ialah “Pra-Injil karangan Yakobus”. Karangan itu berkhayal tentang kelahiran dan masa muda Maria sampai kelahiran dan masa muda Yesus. Karangan itu amat besar pengaruhnya pada devosi rakyat, pada ikonografi dan liturgi. Ada juga (sejak abad V) beberapa (vesri) “Liber Transitus Mariae” (Kitab mengenai peralihan ialah kematian Maria), yang berceritera tentang akhir hidup Maria. Hanya pujangga Gereja Epiphanius (± 408) mengakui bahwa orang tidak tahu apa-apa tentang akhir hidup Maria. Dalam karangan-karangan apokrip (dan pada beberapa pujangga Gereja) tampil “berita”tentang Maria yang tinggal bersama rasul Yohanes, entah di Yerusalem (ditunjuk dua makam Maria), entah di Efesus (di situ juga ada makam Maria!). Ceritera-ceritera macam itu bertitik tolak Yoh 19:25-27, yang sendiri cukup kentara ciri simboliknya. Apokrip-apokrip lain, seperti “Injil (masa muda Maria) karangan Thomas” (abad II) atau: Kisah “Yusuf Si Tukang Kayu” (abad V) juga tidak menambah informasi yang dapat dipercaya. Tulisan-tulisan apokrip, yang merupakan buah khayal, memberikan kesaksian tentang kepercayaan dan devosi rakyat dan penulis yang menghasilkan tulisan-tulisan macam itu. Maka tulisan-tulisan itu amat berharga justru sebagai kesaksian tentang devosi dan kepercayaan rakyat Kristen di masa tulisan-tulisan itu beredar. Betapa luas pengaruhnya a.l terbukti oleh Al-Quran, tempat ditemukan cukup banyak bekas dari devosi dan kepercayaan rakyat Kristen di Arabia, waktu Muhammad tampil.

44. Sampai dengan masa kini devosi kepada Maria mendorong sementara orang untuk menyusun semacam “biografi” Maria. Hanyalah “biografi” macam itu merupakan buah hasil spekulasi dan khayal dan terlebih berupa “roman”. Tentu saja tidak terlarang orang berspekulasi dan berkhayal tentang ibu Yesus, asal saja orang tetap insaf bahwa spekulasi dan khayalan. Orang boleh juga berusaha merekonstruksikan “latar belakang” sosio-historik ibu Yesus, yaitu dengan menyelidiki cara hidup rakyat jelata di Palestina, khususnya di Galilea. Sebuah karangan berbobot dan terkenal di bidang itu ialah P. Gaechter, Maria im Erdenleben, 1953. Usaha itu cukup banyak manfaatnya juga, asal orang tahu bahwa semuanya suatu rekonstruksi l.k hipotetik, bukan tentang Maria tetapi mengenai lingkup hidupnya. Jelas pulalah bahwa orang tidak tahu apa-apa tentang psikologi Maria, Yusuf, keluarga kudus dan sebagainya. Tentang itu tidak ada informasi. Orang boleh saja berspekulasi dan berkhayal tentang semuanya, asal tidak menyampaikannya sebagai “informasi”, tetapi hanya sebagai kesaksian tentang devosinya sendiri kepada ibu Yesus.

C. MARIOLOGI DALAM PERJANJIAN BARU?

45. Apa yang dalam Perjanjian Baru secara terperinci diceriterakan tentang Maria, entah dalam Luk1-2 dan Mat 1-2 entah dalam Yoh 2:1 dst.;19:25dst. mempunyai cirinya sendiri. Di sana ditemukan visi dan pandangan penulis seta jemaahnya tentang ibu Yesus menjelang akhir abad pertama. Visi serta pandangan itu selalu diberikan dalam rangka pemberitaan tentang Yesus Kristus. Maria tidak menjadi pokok pemberitaan tersendiri, tetapi nyatanya turut diberitakan bersama dengan Yesus Kristus dan demi Yesus Kristus. Bagi iman yang terungkap dalam Perjanjian Baru Maria hanya relevan sejau relevan bagi iman akan Yesus Kristus.

46. Tidak terlalu mengherankan bahwa ceritera-ceritera seputar kelahiran Yesus ibuNya turut dipentaskan. Dalam ceritera-ceritera Luk 1-2 Maria menjadi pelaku utama di samping Yesus. Sebaliknya dalam ceritera-ceritera Mat 1-2 Maria agak disingkirkan dan pemeran utama di samping Yesus ialah Yusuf. Ini tentu saja berkaitan dengan maksud khusus Mat, yang mau menekankan bahwa Yesus, sebagai Mesias adalah keturunan Daud. Dalam sistem patriarkhat Yahudi kaitan itu terjalin melalui keturunan laki-laki.

47. Jadi apa yang ditemukan dalam bagian-bagian Perjanjian Baru tersebut ialah visi jemaah-jemaah Kristen (yang menjadi tempat asal bagian-bagian itu) menjelang akhir abad I tentang Maria (dan Yusuf) dalam tampinya (dan karya) Yesus di dunia sebagai Mesias, Juru Selamat, Anak Allah dan Tuhan yang diimani jemaah-jemaah itu. Pendeknya apa yang terdapat di sana ialah: iman jemaah Kristen sehubungan dengan peranan ibu Yesus, Maria, dalam sejarah dan tata penyelamatan. Oleh karena visi itu hasil dari refleksi dan renungan jemaah-jemaah Kristen mengenai Yesus Kristus, maka orang boleh berkata tentang semacam “teologi” tentang ibu Yesus, tentang semacam “Mariologi”. Hanya “teologi” itu bukan “teologi” Mariologi “spekulatif”, melainkan Mariologi “naratif”. Visi jemaah disalurkan melalui “narasi”, bukan melalui konsep dan istilah rasional-teologik.

48. Justru karena ciri-coraknya itulah Luk 1-2 dan Mat 1-2 serta Yoh 2:1 dst.; 19:25 dst. begitu penting bagi Mariologi yang menjadi cabang dari teologi dogmatik-spekulatif. Mariologi tidak bermaksud menyusun suatu “riwayat-hidup” atau “psikologi” Maria, melainkan suatu “teologi” tentang ibu Yesus. Mariologi maunya suatu refleksi rasional-ilmiah atas iman kepercayaan Kristen, yang mesti berurat-berakar dalam kerigma apostolik (Perjanjian Baru). Maka Mariologi, yang secara teologik memikirkan kedudukan dan peranan Maria dalam karya penyelamatan serta segala implikasinya, harus mendasarkan diri terutama pada Luk 1-2 (Mat 1-2). Sebab khususnya dalam bagian Injil itulah ditemukan visi kerigma apostolik tentang ibu Yesus, Juru Selamat dan Tuhan umat Kristen.

49. Boleh dikatakan bahwa Luk 1-2 (dan kurang Mat 1-2) menjadi awal Mariologi. Sumbangan dari karangan-karangan Perjanjian Baru yang lain hanya kecil dan juga Injil keempat hanya berperan sebagai pelengkap.

50. Juga konsili Vatikan II (LG N. 56-59) mendasarkan diri terutama pada Luk 1-2. Hanya ada tambahan-tambahan yang diambil dari karangan-karangan lain yang terkumpul dalam Perjanjian Baru. Dokumen konsili itu (LG bab VIII) tidak mau menyajikan suatu “biografi Maria”, meskipun orang barangkali berkesan demikian. Konsili tidak merepotkan diri dengan kadar historik nas-nas yang dimanfaatkan. Sesuai dengan Perjanjian Baru konsili hanya menyajikan suatu teologi, suatu Mariologi alkitabiah. Dan itulah yang mesti tetap menjadi pangkal dan pengawasan seluruh Mariologi.
——-
Sebelumnya : {PENDAHULUAN}
Selanjutnya : {BAB II: MARIA, IBU-PERAWAN}