Hari Jumat lalu aku pergi ke Lampung dalam rangka ngambil motor di tempat paman untuk dibawa ke Jakarta. Karena perjalanan malam maka tidak banyak hal yang bisa dilihat selama perjalanan. Daripada bengong dan ngelamun, aku doa rosario.Caranya sederhana dan nggak susah. Karena posisinya duduk di dalam bis jadi aku bisa lebih nyaman berdoanya. Mata merem sambil bersugesti membuat tanda salib dan mulai rosario. Kebetulan hari Jumat maka aku ambil peristiwa sedih yang aku hapal banget urutan peristiwanya. Pada setiap habis menyebutkan peristiwa, sebelum masuk ke doa Bapa Kami, aku sedikit flash back ke masa lalu dan merenungkan perjalanan hidup serta mengaitkannya (kadang ga berkaitan tapi ya dikait-kaitin aja) dengan setiap peristiwa rosario. Sempat kucatat beberapa hal yang menjadi renunganku waktu itu, sedikit berbagi pengalaman dengan pembaca semua.

1.Peristiwa sedih pertama – Yesus berdoa dalam sakratul maut.
Dalam banyak kisah Injil, Yesus disebutkan senang berdoa ataupun mengajak murid-muridNya berdoa. Sebagai pengikutNya, masa aku ga bisa mengikuti teladan itu. Sepanjang 28 tahun hidupku berapa lama aku meluangkan waktuku untuk berdoa?? Kurang memang dan harus ditambah.

2. Peristiwa sedih kedua – Yesus didera.
Yesus didera oleh tentara Romawi karena kesalahan yang tidak Ia lakukan. Sama halnya kalo aku terus berbuat dosa dan kesalahan maka aku menambah deraan di tubuh Yesus.

3. Peristiwa sedih ketiga – Yesus dimahkotai duri.
Mahkota duri dalam hal ini melambangkan dosa-dosa yang dilakukan oleh pikiran manusia, entah itu rencana jahat, pikiran kotor, ngerasani orang dan sebagainya. Seberapa sering aku menggunakan pikiranku untuk memikirkan hal-hal negatif? Itu sama aja menambah banyak derita Yesus akibat mahkota duri.

4. Peristiwa sedih keempat – Yesus memanggul salib ke gunung Kalvari.
Tiap orang punya salib, akupun punya salib juga. Setabah apa aku memanggulnya? Belajarlah pada Yesus.

5. Peristiwa sedih kelima – Yesus wafat di salib.
Untuk menebus dosa manusialah Yesus akhirnya disalibkan sampai wafat. Perlambangannya jelas bahwa aku harus bisa mematikan (menyalibkan) sifat-sifat burukku.