Di era modern ini, orang Indonesia masih sangat lekat dengan spiritualitas. Masyarakat yang religius ini masih melakukan berbagai tradisi ritual yang diajarkan maupun yang diimani sebagai bentuk spiritualitas. Tak heran, berbagai tempat ziarah yang tersebar di Indonesia jarang sepi pengunjung. Puncak kunjungan terjadi tentu pada waktu yang menurut tradisi didevosikan untuk pribadi yang diziarahi.

Karena kultur budaya setempat yang terbuka bagi tiap kepercayaan, tradisi Katolik di Yogyakarta tumbuh dan mengakar kuat. Di kota budaya ini, umat Katolik memiliki beberapa tempat ziarah yang berupa Gua Maria. Sebuah Gua Maria yang berkaitan erat dengan kelahiran tradisi Katolik baik di tanah Jawa berada di Yogyakarta. Namanya Gua Maria Sendangsono.

Gua Maria Sendangsono terletak di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Gua yang berada di tanah kapur gersang perbukitan Menoreh ini dikelola oleh Paroki St. Maria Lourdes Promasan. Untuk mencapainya, anda bisa melewati Jalan Magelang atau Jalan Godean yang sama-sama berjarak sekitar 45 kilometer dari kota Yogyakarta.

Nama Sendangsono berasal dari dua kata, yaitu Sendang dan Sono. Dalam bahasa Jawa, Sendang berarti sumber air dan Sono berarti angsana (Pterocarpus indica), dua pohon besar yang tumbuh dan menaungi sumber air utama sejak awal mula ditemukannya. Menurut cerita rakyat setempat, Sendangsono merupakan tempat peristirahatan para rahib Buddha dalam perjalanan ke selatan dari Borobudur dan tempat semedi penganut Kejawen sebelum menjadi Gua Maria.

Bagi umat Katolik di Jawa khususnya, Gua Maria sendang sono sarat nuansa kelahiran dan devosi Maria. Di sinilah Romo Fransiscus van Lith SJ mengambil air yang digunakan untuk membaptis 170 warga Sendangsono yang juga merupakan orang pribumi pertama yang dibabtis di pulau Jawa. Karena tradisi devosi Maria dalam Katolik, tempat ini akhirnya diresmikan sebagai Gua Maria pada 1929.

Salah satu aspek yang meneduhkan di Sendangsono adalah tata letak dan arsitektur bangunan yang mempertahankan kontur alami permukaan tanah di sekitar gua. Adalah YB Mangunwijaya, lebih dikenal sebagai Romo Mangun, seorang budayawan dan rohaniwan yang mengarsiteki pembangunan kompleks Gua Maria ini. Karena konsepnya yang kuat, Gua Maria pernah mendapat penghargaan Aga Khan Awards untuk kategori kelompok bangunan khusus pada 1991.

Tempat duduk bagi umat yang terbuat dari batako disusun berundak secara unik mengikuti kontur lereng menghadap gua. Karena topografinya yang tidak rata, sebagian tempat duduk tersebut lebih tinggi dari altar utama. Tepat di depan Gua Maria disediakan permukaan datar untuk para pendoa memanjatkan devosinya pada Maria.

Di bagian belakang dan samping Gua Maria terdapat permukaan tanah yang lebih tinggi. Disini dibangun sebuah kapel terbuka dengan atap berbentuk dasar sebuah Joglo. Sebuah salib besar yang oleh masyarakat sekitar diidentikkan dengan bukit Golgota berdiri tak jauh dari bangunan ini. Didekatnya, terdapat sebuah kompleks pemakaman orang-orang Katolik terdahulu dari daerah ini.

Gua Maria sendangsono juga memiliki areal untuk warga yang ingin mendapat rejeki dari kehadirannya. Di sepanjang jalan keluar masuk kompleks Sendangsono berjajar kios-kios kecil yang menyediakan pernak-pernik cinderamata. Berbagai perlengkapan doa serta benda-benda yang berhubungan dengan iman Kristiani dijual disini. Dan, jangan lupa membawa air sendang yang terkenal penuh mukzizat jika disertai iman.

Bagi orang yang mencari keriaan ala pantai atau petualangan ala gunung, Gua Maria Sendangsono mungkin jauh dari kata menarik. Namun jika ingin mencari ketenangan batin dan penyejuk hati, Sendangsono merupakan tempat yang sangat indah. Walaupun sarat nuansa Katolik, Sendangsono terbuka bagi pemeluk agama apapun sehingga tak jarang anda bisa menemui pemeluk agama lain yang datang untuk sekedar mencari ketenangan. (Rob/221008)

Dari berbagai sumber.
Courtesy of : Roberto Januar S.