Diangkat dari buku saku karangan Heribertus Wiyono dari Stasi Santo Aloysius Ngijoreja, Paroki Wonosari Gunung Kidul Yogyakarta

Pengantar
Penulisan buku saku ini terdorong untuk melestarikan sejarah berdirinya Sendang Rosario. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan informasi mulai dari awal dibangunnya hingga saat ini. Sehingga generasi penerus akan mengetahui latar belakang tentang Sendang Rosario. Di samping itu, kalau tidak segera ditulis akan segera terkikis oleh waktu dan bergantinya generasi.

Penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak Markus Karso Utama dan Rama T. Widyana, SJ sebagai saksi sejarah, yang telah memberikan informasi yang sangat berharga, sehingga penulisan buku kecil ini dapat terwujud. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Pengurus Stasi Santo Aloysius Ngijoreja, Dewan Wilayah Barat, Dewan Paroki Wonosari dan Pastor Paroki Wonosari Gunung Kidul Yogyakarta, serta semua pihak yang telah memberikan dorongan baik moril dan materiil kepada penulis.
Mudah-mudahan buku kecil ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Kadipaten Ngimbang
Konon menurut cerita, dahulu di wilayah Gunung Kidul ada sebuah Kadipaten, yang bernama Kadipaten Ngimbang. Kadipaten ini termasuk wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Hal ini dapat dibenarkan karena saat ini di Alas Putat ada peninggalan yang berupa batu-batu ukir, plataran, dan ompak untuk rumah joglo, dan beberaoa arca dari batu hitam.

Adipati Ngimbang ini sosok pimpinan yang arif dan bijaksana. Sehingga disukai oleh rakyatnya. Karena begitu dekat dan akrab dengan wong cilik. Yang paling mengesankan bagi rakyatnya, beliau ini senang mengunjungi para kawulanya dengan menunggang kuda kesayangannya. Memang kuda yang dimiliki oleh sang adipati ini lain dari kuda pada umumnya. Sehingga apabila kuda dimandikan di Kali Kotak (kali kotaknya masih ada hingga saat ini), menimbulkan bekas pada batu-batu di dasar kali. Lubang-lubang bekas kaki kuda juga masih nampak jelas pada saat ini.

Dusun Ngimbang
Sejarah selanjutya tidak tahu secara persis, yang jelas di sebelah selatan peninggalan tersebut ada sebuah dusun Ngimbang. Menurut cerita, orang yang pertama kali mendirikan sebuah dusun tersebut sebelumnya bersumpah kepada Sang Semara Bumi (yang menguasai bumi), bahwa penduduk dusun Ngimbang nantinya luwih becik menang katimbang sugih bandha (dalam hidup lebih baik menang daripada kaya harta). Janji dan sumpah tersebut mempunyai makna religius yang sangat tinggi. Karena yang dimaksud menang tersebut adalah kemenangan dalam segala hal. Termasuk kemenangan mengatasi hawa nafsu, kemenangan mengatasi segala persoalan hidup, mengatasi kemerosotan moral, dan lain sebagainya. Maka orang Ngimbang tidak ada yang bisa kaya raya, karena sudah kalah janji dengan sumpah/janji pendiri dusun tersebut.

Pada saat dusun Ngimbang didirikan, setiap batas dusun ditanami pohon jarak. Konon menurut cerita, bahwa pohon yang satu ini dapat mengusir segala roh jahat, setan, jin priprahyangan. Sehingga dusun tersebut akan terbebas dari segala gangguan.

Kali Mojing
Di dusun Ngimbang tersebut terdapat sebuah sumber air yang biasa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk di sekitarnya. Seperti untuk minum, mandi, mencuci, memasak maupun untuk keperluan-keperluan lainnya. Karena pada waktu itu penduduk belum ada yang mempunyai sumur maka sumber air yang dinamakan Kali Mojing itu merupakan satu-satunya sumber air yang ada di dusun tersebut.

Kali Mojing tersebut berada di tanah milik bapak Karto Dikromo. Waktu itu belum berupa kali, hanya merupakan cluwekan (kubangan). Kubangan itu biasa dipergunakan bapak Karto Dikromo untuk minum apabila melakukan pekerjaan di tanah miliknya. Namun ternyata walaupun hanya berupa kubangan air di dalamnya tidak pernah mengalami kering. Musim kemarau panjang juga tidak pernah kering, bahkan airnya sangat bersih dan jernih.

Dikatakan Kali Mojing karena dekat sumber air tersebut ada sebuah pohon yang namanya pohon Mojing. Di kalangan penduduk dusun Ngimbang, kali Mojing dikenal sebagai tempat yang angker dan keramat. Dikatakan demikian karena apabila orang belum biasa datang ke tempat itu, apabila mau pulang mengalami kesulitan. Karena menurut orang itu, sudah berjalan menuju ke rumahnya, namun tidak sampai ke rumah. Dan itu terjadi berulang kali. Sehingga apabula orang tersebut tidak diketahui oleh orang lain maka orang tersebut biasanya hanya berputar-putar di situ. Namun apabila diketahui oleh orang lain dan dilaporkannya kepada juru kunci kali tersebut dan dimintakan maaf pada yang menunggu barulah orang yang bingung itu bisa pulang.

Di samping itu, sudah banyak penduduk yang datang pada malam hari sendirian mendapatkan hal-hal yang misterius. Seperti melihat wedon (pocongan yang bisa berjalan) dan juga memedi diyan (banyak lampu, tetapi lampunya dapat berjalan-jalan), dan masih banyak hal-hal yang misterius lainnya. Sehingga banyak penduduk yang takut mengambil air pada malam hari. Seandainya memerlukan air pada malam hari, misalnya orang punya hajat, biasanya datang secara kelompok. Paling tidak mengurangi rasa takut.

Kali Mojing terdiri dari dua sumber. Sumber yang satu terletak di sebelah barat dan letaknya lebih tinggim maka biasa disebut dengan kali nduwur. Sumber inilah yang disebut Kali Mojing. Sedang yang satunya terletak di sebelah timur dan letaknya lebih rendah, biasanya disebut kali ngisor. Sumber air yang bawah juga masih dalam suatu alur mata air yang sama. Walaupun kelihatannya dua sumber namun sebenarnya satu mata air dan letaknya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 3 meter. Untuk sumber air yang atas dipergunakan untuk air minum dan yang bagian bawah dipergunakan untuk keperluan mencuci dan mandi. Sesuai dengan fungsinya, sumber air yang di bawah oleh penduduk di dusun Ngimbang dibuat lebih lebar, dengan ukuran lebar 2,5 meter dan panjang 5 meter.

Walaupun kali ngisor dipergunakan untuk mandi, namun antar pria dan wanita tidak menjadi satu. Hal ini menunjukkan bahwa saat itu nlai-nilai kesusilaan dijunjung sangat tinggi. Yang biasa dipergunakan untuk mandi perempuan dibuatkan sekat dari papan batu putih. Sedangkan yang pria mandi di balik tanggul yang tidak terlalu jauh dari tempat itu. Pada umumnya pria mengambil air dan dibawa ke tempat khusus di balik tanggul itu.

Dusun Ngijoreja
Pada tahun 1917 negara membuat tatanan bahwa jabatan yang dulu disebut Rangga dirubah menjadi Lurah. Saat itu seorang kamituwa (sesepuh yang mempunyai daya paranormal / kesaktian yang tinggi) yang bernama Bapak Atmo Suparto mempunyai gagasan bagaimana seandainya dusunn Ngimbang itu diganti dengan nama yang lain. Karena Ngimbang itu berarti mengambang. Tidak berbobot dan tidak berkualitas. Bapak Atmo Suparto melakukan laku untuk membuat nama dusun pengganti yang mempunyai makna yang jelas. Setelah melakukan semedi dan bertapa maka pada tahun 1922 dusun Ngimbang ini diganti dengan nama dusun NGIJOREJA. Ngijoreja secara filosofi berasal dari dua kata yaitu Ngijo dan Reja. Ngijo dari kata dasar Ijo yang berarti hijau. Berdasarkan arti sebuah warna, hijau mempunyai arti suatu harapan masa depan yang lebih baik. Baik masa depan duniawi maupun masa depan akhirat. Sedangkan reja , mempunyai arti kesejahteraan dan kebahagiaan. Jadi Ngijoreja mempunyai arti selalu mengharapkan kesejahteraan dan kebahagiaan baik di dunia dan akhirat.

Saat pengubahan nama dusun itu, kali Mojing disempurnakan. Di kanan kiri kali dibuat talud dari batu putih. Bahkan untuk memeriahkan pergantian nama tersebut di kali Mojing diadakan kesenian tradisional berupa reog, karawitan, jathilan dan kesenian-kesenian tradisional lainnya. Para pedagang juga membagi-bagikan dagangannya dengan cuma-cuma. Karena pada saat itu sebagai momen sejarah baru bagi dusun yang diharapkan dapat memberikan masa depan yang lebih baik itu. Kamituwa Atmo Suparto yang memiliki daya linuwih tersebut, setelah adanya ajaran agama Katolik masuk di dusun Ngijoreja, beliau dibaptis pada bulan Desember 1933 (lihat sejarah Stasi Ngijoreja). Karena sebagai orang yang mempunyai pengaruh sangat besar saja masuk menjadi Katolik, tentu saja pengikutnya mengikuti jejaknya. Sehingga umat Katolik berkembang sangat pesat. Bahkan sudah sampai ke dusun Beji, Wera, Ngasem, Kalidukuh, Petung, Gatak dan Kalidadap. Dengan kondisi seperti itu, romo paroki memberikan perhatian secara khusus pada umat Katolik di wilayah dusun Ngijoreja dan sekitarnya. Sewaktu Rama T. Widyana, SJ berkarya di Gunungkidul, juga memberikan perhatian yang khusus terhadap umat Ngijoreja dan sekitarnya. Hal ini dapat dilihat apabila sehabis memimpin perayaan ekaristi, romo tidak langsung pulang, melainkan berbincang-bincang dengan umat di depan gereja. Biasanya sehabis berbincang-bincang romo datang ke salah seorang umat yang mungkin sedang dilanda kesusahan atau mempunyai hajat. Sehingga terjalin komunikasi yang baik sekali antara umat dengan pastornya. Bahkan seperti antara bapak dengan anaknya.

Sendang Rosario
Seperti biasanya romo T. Widyana, SJ mengunjungi salah seorang umat yang sedang sakit. Orang itu bernama Robertus Paino Krama Taruna yang rumahnya dekat Kali Mojing (saat ini rumah bapak Kariyo Rajiyo). Pada saat melintasi Kali Mojing, Romo sangat terkesan. Karena dalam kali tersebut terdapat air yang sangat bersih dan jernih. Saat itu timbullah gagasan romo T. Widyana, SJ untuk membuat tempat ziarah Maria di lokasi Kali Mojing itu. Gagasan itu disampaikan kepada bapak Markus Karso Utomo sebagai katekis waktu itu. Ternyata bapak Karso Utomo menyetujuinya. Hal itu disampaikan kepada umat di wilayah Ngijoreja, maupun umat Katolik di sekitarnya. Umat pun sangat menyetujuinya.

Kemudian langkah selanjutnya, bapak Markus Karso Utomo menemui pemilik tanah tersebut, memohon agar tanah miliknya dapat dipergunakan untuk membuat tempat ziarah Maria. Ternyata beliau tidak keberatan. Sehingga rencana pembuatan tempat ziarah Maria dapat terlaksana.

Mulai saat itu, umat secara bergotong-royong mencari batu yang akan dipergunakan untuk membuat goa, tempat bersemayam patung Bunda Maria. Mulailah dibuat goa Maria. Pembuatan goa ini dipelopori dan didesain oleh Bapak Herman Yoseph Suwandi. Beliau waktu itu bekerja di Departemen Pekerjaan Umum Wonosari Gunungkidul Yogyakarta.

Kebutuhan pasir, kapur, semen merah maupun portland cement diperoleh dari iuran umat Katolik dan dibantu dari paroki Wonosari. Umat Katolik secara bergiliran mengadakan kerja bakti untuk membantu para tukang yang melaksanakan pekerjaan pembuatan goa itu.

Goa Maria dibuat tidak terlalu besar dan menghadap ke timur tepat di bawah pohon munggur (trembesi). Posisi goa Maria ini bersebelahan dengan Kali Mojing yang bagian atas. Secara filosofi, Kali Mojing maupun goa Maria mempunyai arti yang sama. Yaitu sama-sama sebagai sumber kehidupan. Bedanya, Kali Mojing merupakan kehidupan jasmani. Sedangkan goa Maria sebagai sumber kehidupan rohani.

Sewaktu Romo T. Widyana, SJ kembali dari Roma, tepatnya pada peringatan Maria menampakkan diri di Lourdes, Kali Mojing diberkati dan diberi air suci dari Lourdes. Pada saat itu pada tanggal 11 Februari 1962 secara resmi Kali Mojing dirubah fungsinya. Sebagai tempat ziarah Maria yang diberi nama SENDANG ROSARIO.
Mulai saat itu, Sendang Rosario dikenal oleh umat di sekitar wilayah Stasi Ngijoreja. Sehingga pada bulan Maria (bulan Mei) dan bulan Rosario (bulan Oktober) banyak dikunjung umat Katolik, untuk berdoa kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria di Sendang Rosario. Bahkan untuk hari-hari biasa pun banyak yang melakukan doa.

Tidak sedikit pula yang melakukan Novena Tri Sembah Bekti di Sendang Rosario ini dan dikabulkannya. Bahkan menurut kesaksian seorang ibu yang berasal dari Klaten, karena keberhasilannya Novena Tri Sembah Bekti di Sendang Rosario, beliau mengadakan syukuran dengan menyembelih kambing di Sendang Rosario. Ada juga seorang pemuda yang berdoa Novena Tri Sembah Bekti, karena berkeinginan masuk menjadi ABRI, maka setiap malam selama sembilan hari dia berdoa di Sendang Rosario dan ternyata juga dikabulkan. Penulis sendiri juga mengalami hal yang serupa, sewaktu akan mengikuti tes menjadi pegawai pada bulan September 1981, penulis berdoa Novena Tri Sembah Bekti tiap pukul 24.00 WIB. Dan berkat novena di Sendang Rosario ini, juga terkabulkan. Masih banyak kesaksian-kesaksian umat yang merasa berhasil berdoa di Sendang Rosario.

Novena adalah doa selama sembilan hari secara berturut-turut. Novena pertama kali dilakukan oleh para murid termasuk Maria, sebagai persiapan untuk hari Pentakosta (Kis. 1: 4-14). Para murid menantikan kedatangan Roh Kudus dengan berdoa dan kebetulan mereka menunggu selama sembilan hari. Mengingat itu, orang Kristiani kadang-kadang berdoa juga selama sembilan hari. Khususnya untuk mempersiapkan diri untuk menyambut rahmat Tuhan.

Berdoa selama sembilan hari (atau juga lima belas hari atau empat puluh hari) menuntut suatu keterlibatan dan kesetiaan yang lebih tinggi daripada kalau hanya berdoa sesaat saja. Dalam keterlibatan batiniah itulah terletak manfaat Novena.

Renovasi yang pertama
Karena begitu banyaknya yang melakukan doa di Sendang Rosario, maka keberadaan Sendang Rosario semakin dikenal di kalangan umat Katolik di Paroki Wonosari. Sehingga banyak sekolah-sekolah Katolik yang diajak untuk melakukan ziarah ke Sendang Rosario ini. Bahkan untuk di Daerah Istimewa Yogyakarta dan wilayah Klaten banyak yang sudah mengenal.

Karena begitu banyak devosan yang berdoa di Sendang Rosario ini sedangkan luas areal sendang hanya sekitar 80 M2, tentu saja merupakan pemandangan yang memprihatinkan. Melihat seperti itu salah seorang umat Katolik yang bernama Bapak Waenuri merelakan tanah miliknya yang terletak di sebelah timur Sendang Rosario untuk dibeli sebagai perluasan areal Sendang Rosario. Luas tanah milik Bapak Waenuri ini 3000 M2.
Pada tahun 1975, sewaktu Romo Aloysius Hadjosudarma, SJ berkarya di Gunung Kidul, Sendang Rosario direnovasi. Hal ini dilakukan karena tanah yang seluas 3000 M2 tersebut ke arah tenggara, maka pembangunan Sendang Rosario diarahkan ke selatan. Goa dibuat lebih besar. Walaupun demikian goa yang lama tetap dibiarkan berdiri. Karena merupakan salah satu tonggak sejarah.

Pembangunan inipun juga dilakukan secara bergotong royong oleh umat Katolik di sekitar wilayah Stasi Ngijoreja. Bahkan dibantu oleh Stasi Beji dan khusus pendanaan keseluruhan yang berhubungan dengan materian yang harus dibeli, ditanggung oleh Paroki Wonosari dan dibantu oleh Bapak Waenuri. Sedangkan umat membantu mencari batu sebagai bahan dasar untuk membuat goa dan membantu para tukang yang mengerjakan goa tersebut.

Pada tahun 1975, bertepatan dengan penerimaan Sakramen Krisma di Kapel Stasi Santo Aloysius Ngijoreja oleh Bapak Kardinal Yustinus Darmo Yuwono, Pr goa Maria yang baru ini diberkati oleh Bapak Kardinal.

Sebelum pemberkatan Sendang Rosario ini, diadakan prosesi dari kapel ke Sendang Rosario dengan membawa patung Bunda Maria yang baru. Prosesi yang diakhiri dengan pemberkatan Sendang Rosario ini dihadiri oleh umat Stasi Ngijoreja maupun sebagian umat Katolik di Paroki Wonosari.

Sejak saat itu Sendang Rosario dimasukkan dalam agenda Keuskupan Agung Semarang yang merupakan salah satu tempat ziarah Maria yang dimiliki oleh Keuskupan Agung Semarang. Sehingga keberadaan Sendang Rosario semakin dikenal se-Keuskupan Agung Semarang.

Renovasi yang kedua
Pada tanggal 21 Juni 1997, umat Katolik Stasi Ngijoreja genap berusia 8 windu (64 tahun). Pada perayaan 8 windu ini telah dibentuk suatu kepanitiaan. Panitia 8 windu ini diberkati dan ditetapkan sejak 21 Juni 1995. salah satu kegiatannya adalah pembangunan Sendang Rosario. Pembangunan Sendang Rosario ini di titik beratkan pada pembuatan relief jalan salib, mempercantik goa, membuat bangunan altar dan pembuatan pendopo yang berbentuk joglo di lokasi Sendang Rosario ini. Di samping itu telah dibuat bangunan penunjang seperti pagar keliling, memperbaiki sumur (dulu Kali Mojing), halaman goa dipasang paving blok, membuat kamar mandi dan WC.

Pembangunan Sendang Rosario ini dipelopori oleh seorang donatur dari Jakarta (keberatan disebut identitasnya), yang telah menyumbang sebuah patung Maria yang sangat cantik dan satu set relief jalan salib beserta dengan sejumlah uang yang cukup besar. Juga telah banyak dana yang masuk untuk mendukung pembangunan Sendang Rosario ini. Antara lain dari Paroki St. Andreas Kedoya Jakarta Barat, dari para pengusaha Jakarta, maupun warga Stasi Ngijoreja yang berada di Jakarta. Juga dari para pengusaha di Yogyakarta dan juga dari Paroki Wonosari sendiri. Dan masih banyak para donatur yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu dalam buku ini. Di samping itu dukungan umat dalam pembangunan ini sangat luar biasa. Karena setiap hari harus melaksanakan kerja bakti secara bergiliran. Dan setiap keluarga harus mengumpulkan batu putih sebanyak 3 M3. wilayah barat Paroki Wonosari pun tidak ketinggalan melibatkan diri dalam pembangunan Sendang Rosario.

Serangkaian pembangunan Sendang Rosario ini akan ditandai dengan pemberkatan patung Maria yang baru pada tanggal 21 Juni 1997 oleh Mgr. Dr. A. Henry Soesanto, SCJ yang berasal dari Stasi Ngijoreja. Saat ini menjabat sebagai Uskup Tanjung Karang Lampung. Sebelum pemberkatan patung, diadakan prosesi dari Kapel Ngijoreja menuju Sendang Rosario. Di samping pemberkatan patung yang baru juga pemberkatan relief jalan salib, Salib Golgota, dan pendopo dengan suatu harapan agar Sendang Rosario ini dapat berkembang menjadi tempat ziarah yang dikenal oleh umat Katolik pada umumnya.

Penutup
Berkat rahmat dari Tuhan kita Yesus Kristus, Sendang Rosario kian hari kian bertambah cantik dan indah. Yang menjadi pertanyaan, apakah dengan keindahan Sendang Rosario ini juga dibarengi dengan peningkatan kualitas iman umat Katolik? Jawabnya ada pada kita sebagai umat Katolik dimanapun kita berada.