Bacaan Injil tentang kisah Perkawinan di Kana dengan jelas memperlihatkan bahwa tindakan moral dalam hidup Bunda Kita selalu merupakan tindakan yang dilakukan dengan sukarela – yaitu tanpa syarat apapun – tindakan yang digerakkan oleh niat yang benar dan disempurnakan oleh keadaan yang pas, yaitu cara dan saat yang tepat. Episode dari mukjizat di Kana (Yoh.2:1-11) dipahami dalam berbagai macam cara: kesucian perkawinan; mengantisipasi Ekaristi dalam merngubah air menjadi anggur; menunjukkan kekuatan Perawan Terberkati sebagai perantara.

Dalam artikel ini kita akan merenungkan peristiwa itu dari segi kemanusiaan dan keilahiannya, sebagai sebuah cara merefleksikan sebuah tema penting dalam kehidupan moral kita, yaitu tindakan moral.

Marilah kita memulainya dengan mendefinisikan tindakan moral itu. Tindakan moral itu haruslah tindakan yang dilakukan dengan sukarela, yaitu, tanpa paksaan baik dari dalam maupun dari luar diri; tindakan itu harus terarah pada sesuatu (yang disebut obyek) dimana sesuatu itu adalah hal yang baik; tindakan itu juga harus mempunyai tujuan yang baik; tindakan ini harus dilakukan dalam waktu dan sikap yang benar, dan ini semua disebut keadaan.

Dengan semua yang disebutkan di atas, marilah kita melihat bagaimana Sang Perawan bertindak di Kana. Maria mungkin seorang kerabat dari pasangan itu, dan kita dapat mengasumsikan, berdasarkan kebiasaan pada masa itu dan ketulusan hati-Nya, bahwa Ia membantu persiapan dan melayani dalam pesta tersebut, yang dapat berlangsung selama tujuh hari. Dalam kapasitas-Nya itulah Ia menyadari bahwa mereka kehabisan anggur. Perhatian-Nya yang terus menerus pada kehendak Tuhan dan karena itu keinginan-Nya yang cespleng untuk melakukan segala sesuatu sesempurna mungkin, membuat Ia menyadari kurangnya satu unsur penting untuk keberhasilan perayaan itu dan Ia pun campur tangan untuk mengatasi masalah itu.

Siapapun yang ingin secara serius ingin memuliakan Tuhan dengan mengutamakan pelayanan kepada sesamanya, tidak pernah kehilangan kesempatan untuk melakukan kebaikan – bahkan ketika pelayanan itu harus dijalankan dalam cara yang tidak pernah diharapkan. Oleh karena itu, siapa pun yang mengikuti dua kasih yang setara yaitu kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, yang membimbing kita dalam samudera kehidupan, akan menjalani hidup dengan penuh semangat dan merasakan kebahagiaan. Maka kebebasan digunakan sesuai dengan tujuannya yang benar.

Obyek itu sendiri baik adanya. Dengan segala rasa hormat kepada mereka yang menolak apapun jenis minuman beralkohol, anggur sejak dahulu sampai sekarang bagi banyak orang masih merupakan unsur penting dari diet manusia – benar, bukan sebuah unsur yang penting, tetapi bagaimana pun sebuah minuman tambahan yang pas. Terutama dalam konteks pesta, bagi manusia, makan, seperti juga tindakan lainnya, tidak sama maknanya seperti makan bagi binatang, mempunyai serangkaian makna. Ini tak dapat disangkal, faktanya, bahwa Yesus menetapkan Sakramen Ekaristi pada sebuah perjamuan makan, walaupun secara khusus perjamuan makan yang kudus, yaitu Perjamuan Makan Paskah.

Ada dua tujuan Sang Perawan. Tujuan-Nya yang pertama adalah menyelamatkan pasangan itu dan para kerabatnya dari rasa malu yang disebabkan oleh kurangnya unsur yang penting dalam keberhasilan sebuah pesta. Ini saja sudah cukup untuk sebuah tujuan yang benar; tetapi sebenarnya ini menunjukkan sebuah perhatian yang istimewa, karena Maria memperhatikan bahkan nilai-nilai yang terindah dari sebuah kebajikan. Tetapi di samping itu, Sang Perawan, sangat patuh pada Roh Kudus, memahami pentingnya saat ini untuk misteri keselamatan yang mulai dibukakan, itulah sebabnya mengapa Ia berpaling kepada PuteraNya, yang adalah seorang tamu, dan bukan kepada kepala rumah tangga seperti yang seharusnya.

Ini memperlihatkan fakta bahwa setiap karya yang baik dampaknya tidak berakhir hanya sampai karya yang baik itu dilakukan, tetapi berlanjut secara misterius dalam tiga cara: sebagai keunggulan supranatural dari bagi orang yang menjalankannya; sebagai sarana rahmat; dan sebagai akar kebaikan dalam masyarakat, yang dalam banyak kasus tersembunyi dari pikiran manusia tetapi tidak tersembunyi jika digerakkan oleh iman dalam Tuhan.

Keadaan dimana mujizat itu terjadi adalah keadaan paling pas sebuah perjamuan makan dimana, seperti yang telah dikatakan, mengantisipasi dalam cara tertentu perjamuan dimana Ekaristi akan ditetapkan; perjamuan makan itu adalah perjamuan dalam perayaan dari sebuah perkawinan yang sering Yesus gunakan dalam gambaran dari Kerajaan Allah, dimana Mempelai lelaki yang sesungguhnya adalah Tuhan sendiri. Maria meminta kepada para pelayan untuk melakukan apa yang dikatakan Yesus kepada mereka, sehingga mereka dapat menjadi para saksi dari mukjizat itu.

Keadaan itu, meskipun tak mengubah objek moral itu (baik atau jahat) dapat meningkatkan atau mengurangi nilai atau tingkatannya. Oleh karena itu, keadaan-keadaan ini tidak boleh dibiarkan berlalu begitu saja. Siapapun yang benar-benar ingin berbuat kebaikan harus memperhatikan keadaan-keadaan itu juga – seperti Bunda Kita, yang, bersinar dalam seluruh keberadaannya dan dalam setiap tindakannya, melakukan kebaikan yang paling besar dan paling sempurna dengan menggunakan bahan-bahan yang bersifat kebendaan untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan semua umat manusia.

Ditulis oleh: Rm. Massimiliano M. Zangheratti, FI
Sumber tulisan: Missio Immaculatae, Mar ‘05
Penterjemah: M.Th. Silamurti S.Nugroho
Sumber blog: Majalah Ave Maria Edisi September – Oktober 2009 (AM – 56)