Artikel ini diambil dari booklet “Our Glorious Faith and How To Lose It”, penulis: P.Hugh Thwaites,SJ. Booklet itu terdiri atas beragam cerita berbeda mengenai bagaimana kita bisa kehilangan keyakinan kita, tetapi artikel di bawah ini hanya akan membahas hal tersebut dikaitkan dengan Rosario Suci. Berikut adalah pesan-pesan P.Thwaites.

Tanpa menunda-nunda lagi, sekarang saya mau berbicara mengenai tema saya. Tampak bagi saya bahwa penyebab utama dari hilangnya keyakinan kita adalah menurunnya praktek Rosario keluarga.

Di Austria, setelah Perang Dunia II, terjadi keruntuhan total. Selama satu tahun, kelihatannya, tidak ada satu orang pun yang masuk seminari. Lalu Uskup menyelenggarakan musyawarah gereja, untuk mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa perang telah begitu mengacaukan kehidupan keluarga-keluarga yang selama bertahun-tahun mempraktekkan Doa Rosario di rumah-rumah mereka. Praktek Doa Rosario ini berhenti dan tidak pernah dimulai kembali. Saya juga pernah mengalaminya; ketika sudah tidak berdoa Rosario lagi, keyakinan saya lama kelamaan runtuh.

Saya ingat sesorang yang pernah bercerita kepada saya mengenai salah seorang temannya (seorang Katolik yang kuat – teladan umat Gereja), yang semua anaknya “hilang”, satu demi satu. Anak-anaknya menjauhi sakramen-sakramen dan misa-misa. Saya berkata kepada teman saya,”Berani taruhan kalau temanmu itu sedari kecil sudah terbiasa untuk berdoa Rosario keluarga, tetapi anak-anaknya tidak.” Di hari lain saya bertemu dengan teman saya lagi, teman saya bilang kalau saya benar. Temannya teman saya memang sejak kecil terbiasa untuk berdoa Rosario keluarga di rumah, dan ketika dia menikah dan memulai kehidupan keluargnya sendiri, pertama-tama mereka suka memanjatkan Doa Rosario. Tetapi kemudian, di suatu sore, ketika mereka baru mau memulai Doa Rosario, salah satu anak mereka menyalakan televisi, dan semua kejadian sekarang berawal dari situ… Kebiasaan berdoa Rosario keluarga menurun, dan akhirnya mereka menyerah untuk tidak melakukan praktek keyakinan itu lagi.

Dari pengalaman itu terlihat bahwa satu tindakan yang tidak ditegur kelihatannya akan mempengaruhi kelanggengan beberapa orang. Tuhan mengirimkan BundaNya dari Fatima untuk mengatakan kepada kita bahwa kita harus berdoa Rosario setiap hari. Tidak ada doa lain yang Bunda minta untuk kita doakan.

Oleh karena itu, kita seharusnya melakukan apa yang Bunda minta.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang awam yang tidak berdoa Rosario, tapi dia membaca Kitab Suci setiap hari. Itu bagus, sesuai dengan apa yang diminta oleh Pastor, tetapi bukan itu yang diminta oleh Bunda kita. Bunda meminta Rosario. Jika seorang Ibu mengirimkan anaknya untuk membeli sebotol susu, dan anaknya malah kembali dengan es krim, apakah Ibunya akan senang? Es krim memang lebih enak daripada susu, tapi bukan itu yang Ibunya minta.

Di Nazareth, apakah kamu pikir Bunda kita meminta sesuatu sampai dua kali? Jika kita ingin seperti Yesus, kita harus melakukan apa yang diminta oleh BundaNya. Jika kita tidak melakukannya, apakah kita dapat mengharapkan segala sesuatunya berjalan dengan baik? Kita tak dapat melanggar Bunda Tuhan, tanpa noda dosa. Bunda tahu lebih baik daripada kita mengenai bahaya-bahaya dari peperangan spritual ini. Dia dapat melihat dengan lebih jelas daripada kita mengenai bahaya-bahaya di sekitar kita. Bunda memperingatkan kita: Kamu harus berdoa Rosario setiap hari.

Jika seorang mekanik mengingatkanmu bahwa mobilmu butuh perbaikan atau apa pun yang akan rusak, pasti kamu akan memperhatikan peringatan itu? Jika petunjuk bahan bakar memperingatkan kamu bahwa kamu membutuhkan bahan bakar lebih, apakah kamu tidak melakukan sesuatu terhadap hal itu? Dan jika Bunda kita datang dari Fatima dan berkata kepada kita (tidak hanya sekali tapi enam kali) bahwa kita harus berdoa Rosario setiap hari, apakah kita akan mengabaikan peringatan itu? Kalau seperti itu, berarti kitalah yang sepatutnya disalahkan apabila kita mendapati anak-anak kita kehilangan keyakinannya.

Saya tahu bahwa Fatima hanyalah sebuah pengungkapan rahasia pribadi, tapi walaupun demikian Gereja telah mensahkan hal itu, dan hal itu malah membuat kita untuk segera mengabaikannya. Jika Gereja memberitahukan kita bahwa Bunda kita benar-benar datang ke Fatima dan mengatakan kepada kita segala hal di atas, berarti kita harus mendengarkan kata-kataNya. Tampak nyata bahwa orang-orang Katolik yang tidak menganggap Fatima sebagai suatu hal yang serius dan tidak berdoa Rosario tiap hari di rumah mereka, menjadi sangat mirip dengan orang-orang Yahudi yang mentertawakan Yeremia. Jika Tuhan mengirimkan kita para RasulNya dan kita tidak mengangap mereka secara serius, maka kita punya seluruh Perjanjian Lama yang dapat mengatakan kepada kita mengenai apa yang akan terjadi sebagai akibatnya. Tetapi di Fatima, Tuhan mengirimkan kita, bukan para RasulNya, tetapi BundaNya yang Tanpa Noda.

Jadi, saya pikir meninggalkan kebiasaan Rosario keluarga adalah sebab utama mengapa begitu banyak orang Katolik yang kehilangan keyakinannya. Tampak bagi saya bahwa Gereja yang akan datang hanya akan terdiri semata-mata dari keluarga-keluarga yang setia berdoa Rosario. Selebihnya, berasal dari keluarga-keluarga yang dulunya Katolik.

Selama saya bekerja mengunjungi rumah-rumah, saya sudah melihat akhir yang seperti ini. Rumah dapat ditransformasikan kembali dengan mulai mengumandangkan Doa Rosario tiap hari. Saya ingat seorang wanita bercerita kepada saya bahwa dia tidak dapat cukup berterimakasih pada saya yang mengomelinya untuk memulai berdoa Rosario; Doa Rosario telah menyatukan keluarganya kembali seperti tidak pernah terjadi sebelumnya.

Saya juga ingat akan sebuah keluarga yang pernah saya hubungi. Ada suatu suasana aneh di sana; anak-anaknya tidak bersuara dan istrinya kelihatan menarik diri, sedangkan suaminya sedang mau memulai Doa Rosario keluarga. Ketika saya hubungi mereka kembali 2 bulan kemudian, atmosfirnya sudah berbeda. Anak-anaknya banyak cakap, istrinya ramah, dan suaminya, sesudahnya, berjalan-jalan dengan saya di luar, mengatakan betapa luar biasanya rumah mereka karena sudah lebih banyak kegembiraan di dalamnya.

Satu alasan, saya pikir, mengapa Doa Rosario tiap hari dapat membuat rumah bahagia, adalah ini. Dari beberapa orang yang rajin,dan dari beberapa perkataan santo/santa, kelihatannya kuasa jahat takut terhadap Rosario. Rosario membuat rambut mereka habis, juga bisu. Air Suci memang dapat mengusir mereka, tapi mereka akan kembali. Doa Rosario tiap hari dapat mengusir mereka pergi dan menahan mereka di luar. Hal itu dapat diibaratkan seperti hidup di rumah tua dengan banyak tikus dimana-mana. Satu-satunya jalan untuk mengusir tikus itu adalah dengan kucing-kucing. Jika kamu punya sepasang kucing, setelah satu atau dua minggu tidak akan ada lagi tikus-tikus. Tikus-tikus takut pada aroma kucing-kucing yang sangat menyengat. Dan di dalam sebuah rumah yang setiap harinya dikumandangkan Doa Rosario, setelah suatu waktu, kuasa jahat sadar bahwa mereka tidak berdaya di hadapan Bunda kita, dan pergi ke tempat lain.

Pasti inilah alasannya mengapa, seperti yang mereka katakan,”Keluarga yang berdoa bersama, tetap bersatu.” Di rumah seperti itu, yang sungguh-sungguh bebas dari roh-roh jahat, ada suatu atmosfir yang tidak dapat ditemukan di luar. Di dalam sebuah kota yang dikerumuni setan seperti London, tempat saya tinggal, rumah seperti itu bagaikan sebuah oase dari nikmat Tuhan, dan orang-orang akan mendapatkan sebuah kenyamanan dan kedamaian di sana yang dapat mereka nikmati sepuasnya/ kita manusia tidak dimaksudkan untuk hidup di perusahaan iblis, tapi untuk hidup dengan Tuhan dan para malaikat serta para santo/santaNya di Surga.

Jadi, seperti yang saya lihat, dalam upaya ini, kita jaga keyakinan kita dan kita sebarluaskan praktek Doa Rosario yang tidak bisa dihapuskan sama sekali. Apa pun yang mungkin dilakukan seseorang, walaupun mereka pergi menghadiri Misa setiap hari, mereka tetap harus mendoakan Rosario di rumah mereka setiap hari. Itu adalah obat yang Bunda bilang kita untuk ambil, untuk menjaga kekuatan dan baiknya keyakinan kita.

Sumber: http://olrl.org/misc/fmrosary.shtml
Penterjemah: Ursula Brigitta Tiwow
Sumber Tulisan: Majalah Ave Maria – Edisi September Oktober (AM-56)