PRAKATA

Terbitnya buku Seri PUSTAKA TEOLOGI, dimaksudkan untuk menyediakan bacaan teologis, sebagai perkenalan bagi mereka yang ingin mengetahui teologi, dan sebagai penyegaran bagi mereka yang pernah studi teologi.
Karena teologi merupakan refleksi atas iman, diharapkan bahwa buku Seri PUSTAKA TEOLOGI dapat membantu semua saja dalam usaha mempertanggungjawabkan iman dalam dialog dengan tantangan-tantangan zaman dewasa ini.

Redaksi/Penanggung jawab Seri
Dr. J.B. Banawiratma, SJ.
Dr. Tom Jacobs, SJ.

KATA PENGANTAR

Dibandingakan dengan masa sebelum konsili Vatikan II perhatian yang dalam teologi diberikan kepada ibu Yesus agak berkurang. Tak terpungkiri juga bahwa di berbagai daerah dunia Katolik “devosi” umat kepada Maria merosot, malah di sana sini devosi itu mengalami semacam krisis. Banyak praktek devosional yang sudah lazim dalam tradisi umat Katolik kehilangan dampaknya.

Karya ini tentu saja tidak bermaksud mengulangi gejala itu. Maksudnya cukup sederhana dan umum. Hanya mau disajikan dalam karya ini suatu misi menyeluruh tentang ibu Yesus seperti terdapat dalam ajaran Gereja Katolik yang l.k. resmi. Sekaligus “devosi marial” mau disoroti dan dibenarkan.

Maka bukan maksudnya menyajikan suatu “visi baru”, kalau masih dapat ditemukan. Disinggung sedikit pendekatan baru yang akhir-akhir itu muncul, tetapi yang dampaknya tidak luas atau mendalam.
Karya ini dalam Bahasa Indonesia (mudah-mudahan tidak terlalu berbelit-belit) barangkali untuk pertama kalinya memaparkan visi Gereja Katolik menyeluruh tentang peranan Maria dalam tata penyelamatan dan dalam kehidupan umat Katolik. Sedikit juga dikatakan mengenai pendirian gereja-gereja Reformasi tanpa meninggalkan suatu polemik dengan pendirian itu.

Semoga karya ini berguna sedikit bagi umat Katolik di Indonesia demi kemuliaan Allah dan Tuhan Yesus Kristus yang nampak pada wajah ibu-Nya. Dengan harapan yang kiranya sama P.Yohanes-Paulus menentukan tahun1987-1988 sebagai tahun Maria (6 Juni – 15 Agustus) untuk menyongsong tahun 2000 sejak tampilnya Juru Selamat.

Yogyakarta, 26 April 1987
Dr.C. Groenen OFM.

PENDAHULUAN

1. Mariologi merupakan sebagian dari teologi dogmatik spekulatif. Mariologi ialah: refleksi teologik mengenai Maria, ibu Yesus, kedudukan dan peranannya dalam karya penyelamatan Allah. Refleksi tersebut haruslah berpangkal pada Kitab Suci dan tetap tinggal dalam rangka iman Gereja Kristus, khusunya Gereja Roma Katolik, setelah Gereja Kristus yang tetap mesti satu nyatanya terpecah menjadi Gereja Ortodoks-Yunani (sejak tahun 1045) dan gereja-gereja, jemaah Reformasi sejak abad XVI dan Gereja Roma Katolik.

2. Tentu saja agak mengherankan bahwa dalam teologi Katolik ada suatu “Mariologi” di samping Kristologi, Soteriologi, Eklesiologi, Sakramentologi dan sebagainya. Sebab di samping Allah dan Yesus Kristus tidak ada satu pun orang lain yang menjadi pokok refleksi teologik khusus, kecuali Maria. Teologi ialah refleksi iman mengenai Allah dalam relasi timbal balik dengan manusia, sebenarnya hanya ada dua bagian atau cabangnya. Kedua bagian itu ialah Kristologi, ialah ajaran dan refleksi tentang Yesus Kristus, dan Eklesiologi ialah ajaran dan refleksi mengenai Gereja Yesus Kristus. Kristologi bertitik tolak Allah dan Eklesiologi bertitik tolak manusia (yang diselamatkan). Dalam kerangka Kristologi dapat dan mesti dibahas Allah Tritunggal, Roh Kudus (Pneumatologi) dan Soteriologi. Pokoknya: Dalam rangka Kristologi dibahas Allah yang bagaimana mengerjakan apa dan berkarya bagaimana demi untuk keselamatan manusia. Sedangkan dalam kerangka Eklesiologi, dibahas Gereja sebagai misteri dan lembaga, Sakramen, Kasih karunia (Rahmat) Allah pada manusia. Pokoknya dalam rangka Eklesiologi dibahas:Manusia yag bagaimana menanggapi karya Allah dan dengan cara yang bagaimana manusia, baik secara perorangan maupun dalam kebersamaan menjadi selamat.

3. Rupanya dalam kerangka teologi macam itu sukar menemukan suatu tempat khusus bagi Maria. Nyatanya hanya dalam Gereja Roma Katolik Latin berkembanglah suatu Mariologi tersendiri dan itu pun barulah di zaman agak belakangan. Adanya suatu Mariologi tersendiri hanya dapat dibenarkan dengan menunjuk kepada kedudukan dan peranan Maria. Di satu pihak kedudukan dan peranan itu tidak sama dengan kedudukan dan peranan Kristus dalam sejarah dan tata penyelamatan, tetapi di lain pihak kedudukan dan peranan Maria juga tidak dapat disamakan dengan kedudukan dan peranan manusia pada umumnya. Hanya kalau demikian duduknya perkara pantaslah Maria direfleksikan tersendiri, sehingga refleksi itu menghasilkan suatu Mariologi. Hanya muncullah soal baru sebagai berikut. Di mana sebaik-baiknya Mariologi ditempatkan dalam keseluruhan Teologi, dalam kaitan dengan Kristologi atau dalam kaitan dengan Eklesiologi?

4. Dalam hal itu para teolog / mariolog Katolik terbagi-bagi. Sebagian teolog menempatkan Maria dalam rangka Kristologi / Soteriologi. Mariologi sebenarnya merupakan penjelasan dan pemerincian ajaran tentang Yesus Kristus dan karyaNya. Melalui refleksi tentang Maria menjadi lebih jelas siapa sebenarnya Yesus Kristus, apa itu “inkarnasi”, bagaimana Allah mengerjakan keselamatan manusia. Mariologi semacam itu sedapat mungkin mendekatkan Maria kepada Juru selamat sendiri. Ditekankan dan diperkembangkan kedudukan dan peranan Maria dalam karya penyelamatan Allah (penebusan objektif istilahnya) demi untuk manusia. Sebagian lain teolog / mariolog condong merefleksikan dan membahas Maria dalam rangka Eklesiologi, dalam rangka penebusan subjektif istilahnya. Maria dilihat terutama sebagai hasil unggul karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus. Dalam pendekatan ini Maria seluruhnya ada di pihak manusia yang diselamatkan. Ia dilihat sebagai model, pengrealisasian penuh manusia beriman, malah Maria dilihat sebagai model seluruh umat beriman.

5. Sikap Konsili Vatikan II agak mendua. Konsili jelas condong mengadopsi pendekatan eklesiologik tersebut. Konsili kan menyajikan Mariologinya sendiri dalam rangka ajarannya tentang Gereja (Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium Bab VIII). Namun demikian konsili tidak menolak pendekatan lain. Para Bapa konsili menegaskan bahwa tidak bermaksud menyajikan suatu Mariologi utuh lengkap dan tidak mau memutuskan apa yang masih dipersoalkan dalam teologi Katolik (LG N.54). Nyatanya konsili kurang berhasil mengintegrasikan Mariologinya ke dalam Eklesiologi. Bab VIII konstitusi Lumen Gentium terasa sebagai suatu “appendix”, suatu “tambahan” melulu. Kalau bab VIII dicabut Eklesiologi konsili tidak mendapat rugi sedikit pun dan tidak berubah apa-apa. Maria memang ditempatkan di pihak Gereja. Namun konsili tidak mau (dan tidak dapat) menyamakan kedudukan dan peranan Maria dalam sejarah dan tata penyelamatan dengan kedudukan dan peranan orang beriman lainnya. Maria mendapat suatu kedudukan dan peranan yang tidak hanya unggul, tetapi juga tunggal.
Kalau Maria dimasukkan ke dalam Gereja, maka di dalam Gereja sendiri terpaksa dibuat pembedaan antara Gereja dengan Maria dan Gereja tanpa Maria. Ini suatu “distinctio inadaequata” (tidak seluruhnya berbeda), tetapi toh suatu “distictio realis” (perbedaan yang sungguh-sungguh nyata) dan tidak hanyalah konseptual (distinctio rationis) belaka. Pembedaan antara umat beriman termasuk Maria dan umat beriman tidak termasuk Maria diperteguh oleh P. Paulus VI yang habis sidang konsili yang membahas Gereja dan Maria, meresmikan Maria sebagai “Ibu Gereja”. Gelar itu tidak mau diterima suatu mayoritas Bapa konsili (meskipun tidak menolak apa yang dimaksud dengan gelar itu), sedangkan oleh sejumlah besar Bapa konsili gelar itu justru dianjurkan.

6. Seperti tempatnya Mariologi dalam keseluruhan teologi diperdebatkan para teolog Katolik, demikian pun caranya Mariologi mesti disusun dipersoalkan. Ada suatu pendekatan metodologik yang laris sekali sampai konsili VatikanII. Mariologi itu bertitik tolak ajaran resmi (dogma dan quasi-dogma) tentang Maria. Ajaran itu tidak hanya secara spekulatif dijernihkan, tetapi juga dipakai sebagai pangkal untuk perkembangan lebih lanjut. Dipertanyakan apa yang dalam rangka seluruh ajaran resmi masih dapat dijabarkan dari dogma dan ajaran resmi tentang Maria. Ada tendensi kuat untuk terus mengembangkan Mariologi agak terlepas dan menghasilkan “dogma” baru. Tendensi itu sedikit banyak dipimpin oleh slogan “De Maria nunquam satis” (tidak pernah orang dapat mengatakan cukup tentang Maria). Tendensi itu dibendung oleh konsili Vatikan II. Konsili enggan mengembangkan suatu Mariologi terlepas berdasarkan keistimewaan pribadi Maria. Konsili menempatkan Maria dalam rangka sejarah penyelamatan dan mengaitkan Mariologi pada Eklesiologi.

7. Dengan demikian konsili Vatikan II mendukung pendekatan metodologik yang lain. Pendekatan itu mau mendasarkan Mariologi pada Alkitab dan mau tinggal dalam rangka Alkitab sebagaimana Kitab Suci diartikan dalam tradisi sejati. Tradisi nyata, yang kadang kala khususnya sehubungan dengan ibu Yesus agak liar, mesti diawasi oleh Kitab Suci dan disaring dengan pertolongan Alkitab.

8. Pendekatan metodologik kedua ini – yang hemat kami mesti dibenarkan – tidak terluput dari kesulitan serius. Sebab nyatanya Kitab Suci Perjanjian Baru (hanya ini relevan bagi Mariologi) tidak banyak bicara tentang ibu Yesus. Maka pendekatan metodologik ini menemukan suatu pangkal dan titik tolak yang amat sempit. Boleh dikatakan hanya Luk 1-2 dapat dipakai sebagai titik tolak. Nas-nas lain (Mat 1-2; Yoh 2:1-10.12; 19:25-27; Why 12; Kis 1:14) atau tidak menambah apa-apa atau membutuhkan begitu banyak tafsiran yang kurang pasti, sehingga amat sukar dipakai sebagai pangkal refleksi teologik tentang ibu Yesus.

9. Kekurangan data alkitabiah itu mencetuskan masalah dasar. Yaitu: Adakah Maria termasuk ke dalam kerigma apostolik? Teologi dan tradisi sejati hanya dapat mengembangkan kerigma apostolik saja. Kalau Maria tidak secara khusus termasuk ke dalam kerigma itu, maka Maria tidak dapat menjadi suatu tema khusus dalam teologi. Suatu Mariologi khusus tidak berdasar sama sekali dan tidak dapat dibenarkan.
Bahwasannya nama Maria dalam rangka pemberitaan (Kerigma) tentang Yesus Kristus disebutkan dalam Perjanjian Baru, tidak membenarkan adanya suatu teologi khusus tentang ibu Yesus. Ada tokoh-tokoh yang jauh lebih sering ditampilkan dalam Perjanjian Baru (misalnya: Yusuf, Pertus, Paulus, Pilatus, Kaifas). Tetapi tidak ada seorang pun yang atas dasar itu mau mengembangkan suatu “Petrologi”, Paulo-logi”, apalagi suatu “Pilato-logi”. Usaha untuk mengembangkan suatu “Yosefo-logi” (teologi tentang Yusuf, ayah angkat Yesus), yang khususnya ditangani sementara teolog di Kanada, tidak mendapat angin. Namun peranan Yusuf dalam Mat 1-2 cukup menyolok. Jadi soalnya: mana dasar bagi Mariologi dalam kerigma apostologik? Perjanjian Baru tidak mewartakan Maria, melainkan Yesus Kristus serta karyaNya. Perlukah Maria secara khusus diikutsertakan dalam pewartaan injil? Mengingat Injil Mrk, karangan-karangan Paulus dan sebagainya, rupanya seluruh Injil dapat diberitakan tanpa Maria.

10. Gereja-gereja yang berasal dari Reformasi abad XVI rupanya berkeyakinan bahwa Maria tidak termasuk dalam kerigma apostolik. Sebab – pada umumnya dan secara resmi – dalam teologi dan praxis jemaah-jemaah Reformasi Maria tidak berperan sama sekali dan dapat dilewatkan tanpa rugi sedikit pun untuk keutuhan iman, teologi dan praxis Kristen. Para Reformator sendiri (Luther, Kalvin, Zwingli) dan juga “Pengakuan Iman” awal (seperti Augustana Confessio) serta teolog semula masih menghormati Maria dan menerima ajaran Gereja Kuno tentang Maria (Bunda Allah, keperawanan waktu mengandung dan selanjutnya, kesucian Maria), kalaupun mereka memprotes keterlaluan devosional yang berkembang dalam Gereja Katolik zaman pertengahan. Ajaran tradisional tersebut oleh Reformasi terutama didekati dari sisi kristologiknya. Memang Maria tidak seluruhnya hilang dari jemaah-jemaah Reformasi. Dalam Gereja Luther misalnya masih ada beberapa hari raya yang mengenangkan Maria. Tetapi dampaknya pada praxis dan teologi kecil sekali.

11. Sejak abad XVI Maria memang menjadi pokok pertikaian antara umat Reformasi dan umat Roma Katolik, sehingga “devosi marial” para Reformator hilang dari umat Reformasi. Akibat pertikaian itu afek anti-Katolik di kalangan jemaah-jemaah Reformasi menjadi afek anti-Maria. Betapasering pun duduknya perkara dijelaskan dari pihak Katolik (a.l. konsili Vatikan II) umat Reformasi umumnya yakin bahwa umat Katolik “menyembah” Maria. Maria menyingkirkan dan mengganti Yesus Kristus. Meskipun akhir-akhir ini ada sementara teolog Protestan yang sedikit banyak mau kembali kepada awal Reformasi dalam pendiriannya terhadap Maria, namun umat Reformasi (kecuali sementara fundamentalia) tidak merasa dirinya tersinggung dan terpukul, jika seorang teolog mereka blak-blakan menyingkirkan “devosi marial” para Reformator dengan misalnya menyangkal keperawanan Maria waktu mengandung Yesus dan kesucian Maria.

12. Di belakang sikap anti-Maria yang sangat emosional tersebut, yang sebenarnya sikap anti-Katolik, tersembunyilah suatu perbedaan ajaran teologi yang mendasar. Dalam Mariologi Katolik ditonjolkan dan digarisbawahi secara ekstrem peranan aktif (kalaupun dalam ketergantungan) manusia dalam karya penyelamatan. Maria hanya menjadi penampakan jitu peranan manusia itu. Dan peranan aktif semacam itu tidak dapat diterima para Reformator dan gereja-gereja yang berpangkal pada mereka. Dengan memutlakkan peranan Allah (hanyalah Allah, hanyalah kasih karunia; solus Deus, sola gratia) mereka sukar dapat menampung peranan manusia, termasuk Maria dan malah manusia Yesus Kristus. Manusia, dalam pendekatan mereka, hanya memegang peranan pasif belaka. Itulah yang menjelaskan sikap Reformasi terhadap Maria. Kelalaian teologi Protestan terhadap Maria hanya dapat dinilai sebagai konsekuensi prinsip yang ada pada para Reformator sendiri.
Maria tetap akan tinggal pokok pertikaian antara umat Katolik dan umat Protestan. Umat Protestan tidak dapat mengembangkan suatu Mariologi seperti yang berkembang dalam Gereja Roma Katolik. Tetap akan ada dua pokok pertikaian, yang sebenarnya hanya satu, yaitu Maria dan Sri Paus (sebagai pempribadian Eklesiologi Katolik). Kedua pokok itu sebenarnya hanya satu oleh karena dua-duanya menyangkut peranan aktif manusia dalam karya penyelamatan – begitulah pendekatan Katolik – atau peranan yang pasif belaka, itulah pendekatan Protestan. Dengan demikian Maria dan Sri Paus menjadi hambatan konkret yang paling besar dalam gerakan ekumene.

13. Kalau teologi Reformasi condong menyangkal bahwa Maria termasuk kerigma apostolik dan pewartaan Injil, maka teologi Katolik mempertahankan bahwa ibu Yesus termasuk kerigma awal. Maria tidak dapat disingkirkan dari Injil dan dari teologi yang merefleksikan dan melayani pemberitaan Injil. Kedudukan dan peranan Maria dalam Injil tidaklah sama dengan kedudukan dan peranan, misalnya Petrus atau Paulus, dan bahkan tidak sama dengan kedudukan dan peranan Yusuf.

Kalaupun benar bahwa Perjanjian Baru mewartakan Yesus Kristus, bukan Maria, namun Maria turut diwartakan dan pewartaan Kristus tanpa Maria tidaklah lengkap.

14. Tetapi kerigma apostolik seutuhnya mesti digali dari seluruh Perjanjian Baru dan tidak hanya sebagiannya saja. Seandainya benar, nanti dibahas seperlunya, bahwa Maria sama sekali tidak berperan dalam pemberitaan Mrk dan Paulus dan sebagainya, namun tidak boleh dikatakan, bahwa pemberitaan Mrk, Paulus dan sebagainya sama saja dengan kerigma apostolik. Kerigma apostolik yang tercantum dalam Mat 1-2, Luk 1-2 dan Yoh sama kerigma apostolik. Kerigma apostolik utuh lengkap menjadi pangkal dan titik tolak teologi yang tidak boleh memilih-milih.

15. Mariologi Katolik maunya mendasarkan diri pada seluruh kerigma apostolik tersebut. Yang mempunyai peranan paling besar dalam Mariologi tentu saja Luk 1-2 dengan ditambah Yoh 2:1-10.12 ; 19:25-27. Namun dasar dan titik tolak Mariologi bukanlah suatu ayat atau nas, tetapi terlebih “gambaran Maria” menyeluruh tampil dalam Perjanjian Baru.

16. Tidak dapat dikatakan bahwa seluruh Mariologi Katolik, baik yang “didogmatisasikan”, maupun yang secara otentik diajarkan secara rasional-ilmiah dapat dijabarkan dari teks Perjanjian Baru. Teks itu sendiri dan terlepas kerap kali cukup dwiarti dan ambivalen, sehingga mengizinkan pelbagai tafsiran. Tradisi lanjutan menafsirkan teks dan mengembangkan isinya ke arah tertentu, yang ditinjau dari sudut ilmu tafsir, hanya salah satu kemungkinan. Boleh dikatakan bahwa khususnya dalam Mariologi tradisi itu memainkan peranan amat penting, justru oleh karena data mariologik Perjanjian Baru sedikit sekali. Dalam tradisi itu ada pelbagai faktor yang turut berperan.

17. Faktor yang dari sisi teologi paling penting ialah perkembangan dan refleksi teologik di bidang lain, khususnya dalam Kristologi dan Eklesiologi. Tidak serba kebetulan bahwa juga dalam Perjanjian Baru data mariologik terutama tampil dalam bagian-bagian perjanjian Baru yang agak belakangan dalam waktu. Kerigma kristologik yang tercantum dalam bagian-bagian itu relatif sudah maju. Dalam rangka ini barulah Maria tampil ke depan. Bobot Kristologi juga menentukan bobot Mariologi.

18. Faktor lain yang cukup penting dalam perkembangan Mariologi Katolik ialah agama dan devosi rakyat. Agama dan devosi itu tidak jarang tercermin dalam ibadat resmi dan dengan demikian direstui. Betapa pentingnya faktor itu, namun mesti diakui bahwa agama dan devosi rakyat (meski termasuk ibadat sekali pun) karena sifatnya sendiri agak ambivalen. Devosi itu tidak hanya menimba inspirasinya dari kerigma apostolik dan tradisi sejati, tetapi juga dari lingkungan nyata, dari tradisi-tradisi keagamaan lain. Tidak mustahil – sebaiknya, boleh dikatakan wajar – bahwa rakyat memindahkan pelbagai motif mitologik dari agama kafir (dewi kesuburan, keibuan sakral, kewanitaankosmik) kepada ibu Yesus. Agama devosi rakyat juga tidak bekerja dengan konsep intelektual yang tuntas, tetapi dengan simbol-simbol dan lambang-lambang yang artinya agak kabur dan tidak menentu. Nyatanya peranan Maria dalam agama rakyat Kristen menjadi semakin penting, semakin Kristologi menjadi spekulatif, sehingga Yesus Kristus sendiri bagi rakyat secara eksistensial dan emosional menjadi kurang mengesan dan kurang relevan. Semakin keilahian Kristus ditekankan, semakin Maria tampil sebagai lebih “dekat”.

19. Tetapi justru devosi rakyat yang cukup ambivalen itu mendorong dan memajukan refleksi teologik tentang Maria. Refleksi itu di satu pihak disuburkan oleh devosi rakyat, di lain pihak refleksi itu (haruslah) mengawasi dan membetulkan devosi itu. Apa yang secara intuitif dilihat oleh rakyat beriman, oleh rafleksimesti dijernihkan dan dipasang dalam keseluruhan iman dan ajaran Kristen. Dan refleksi teologik yang disuburkan oleh devosi pada gilirannya diawasi oleh kerigma apostolik yang tercantum dalam Perjanjian Baru. Itu tentunya tidak berarti bahwa pada sementara orang (kelompok) dan untuk sementara waktu, juga refleksi teologik, tidak dapat tersesat. Sebaliknya, ada kalanya juga teologi kehilangan keseimbangan dan arah. Tetapi dalam peredaran waktu kesesatan dibetulkan lagi, entah dari dalam entah dari luar. Itu suatu keyakinan yang berdasarkan iman bahwa Gereja, umat Kristen, secara menyeluruh tidak sesat dalam imannya, melainkan tetap setia pada awal mulanya, Yesus Kristus.

20. Meskipun ada pengaruh timbal balik antara devosi rakyat dan refleksi teologik, namun dua-duanya bergerak pada jalur yang lain. Devosi rakyat terarah kepada Maria sendiri sebagai pribadi. Meskipun relasi Maria dengan Allah dan Kristus secara kabur turut disadari oleh rakyat, namun pusat perhatian ialah Maria sendiri. Justru dalam hal itu terletak bahaya yang ada dalam agama rakyat. Unsur-unsur yang seharusnya menjadi suatu kesatuan, menjadi terisolasi dan mendapat nilai mutlak. Dalam devosi rakyat boleh jadi Maria menjadi terisolasi dari Allah dan Yesus Kristus. Kalau demikian Maria menjadi dewi dan Kristus disingkirkan. Sebaliknya refleksi teologik selalu melihat dan memikirkan Maria dalam relasinya dengan Allah dan Kristus dan dalam relasinya dengan pokok-pokok iman Kristen yang lain. Dengan lain perkataan: Maria dilihat “relatif”. Dengan demikian teologi dapatmembendung bahaya yang terkandung dalam agama dan devosi rakyat. Tetapi teologi nyatanya begitu abstrak dan berbelit-belit, sehingga kurang mengena di hati. Padahal “agama”dan “iman” bukanlah pertama-tama perkara otak dan konsep, melainkan perkara hati dan simbol. Karena itu teologi, kalau mau melayani eksistensi Kristen, membutuhkan devosi rakyat.

21. Nyatanya sepanjang sejarah teologi menjadi begitu jauh dari hidup sehari-hari umat beriman, sehingga devosi kepada Maria, yang justru berurat berakar dalam hidup sehari-hari kalah terhadap bahaya sinkretisme. Tidak sedikit unsur kafir berhasil menyusup ke dalam devosi itu. Soalnya bukanlah bahwa pelbagai simbol kafir diambil alih. Terhadapnya tidak ada keberatan dasariah. Tetapi terjadi bahwa juga arti dan isi simbol itu dipindahkan kepada ibu Yesus. Kritik yang dilontarkan Reformasi dan umat reformasi sampai dengan hari ini tidak seluruhnya meleset dan tidak jarang diberi makan oleh devosi dan agama rakyat Katolik.

22. Dalam pembahasan berikut diuraikan terlebih dahulu Mariologi teologik, dasar dan perkembangannya. Tetapi oleh karena teologi seharusnya melayani praxis, maka bagian kedua membahas sedikit devosi marial serta dengan gejala-gejalanya. Bagian kedua itu boleh diberi judul: “Mario-duli”.
——
Selanjutnya : {BAB I : MARIA, IBU YESUS}